Pengembangan Pendidikan Agama Islam Sebagai Budaya Sekolah
Abstract
Tulisan ini mengemukakan pentingnya pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi budaya sekolah. Strategi mewujudkan hal tersebut dapat ditempuh melalui beberapa cara, yakni: (1) Power strategi, (2) persuasive strategy, dan (3) normative re-educative. Pembiasaan menjadi hal penting untuk menunjang upaya pengembangan PAI menjadi budaya agama di sekolah, karena pembiasaan merupakan hasil dari proses latihan terus menerus sehingga menjadi budaya agama di sekolah tersebut yang akan berakibat positif terhadap terwujudnya tujuan PAI yakni mewujudkan manusia yang taat beragama dan berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komu- nitas sekolah. Implementasi budaya agama di sekolah sekaligus sebagai solusi dari problematika PAI terkait minimnya jam pelajaran dan praktik pembelajarannya yang hanya memperhatikan aspek kognitif semata dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatifvolitif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Abstract
This paper discusses the importance of developing Islamic Religious Education (PAI) into a school culture. Strategies for achieving this can be pursued through several methods, namely: (1) power strategies, (2) persuasive strategies, and (3) normative re-education. Habitualization is crucial to support efforts to develop PAI into a religious culture in schools. Habitualization is the result of a continuous training process that becomes a religious culture in the school, which will positively impact the realization of PAI's goals: to create religiously devout and noble individuals, namely individuals who are knowledgeable, diligent in worship, intelligent, productive, honest, just, ethical, disciplined, tolerant (tasamuh), maintain personal and social harmony, and develop a religious culture within the school community. Implementing a religious culture in schools also serves as a solution to PAI's problems related to the limited number of teaching hours and learning practices that focus solely on cognitive aspects while neglecting the development of affective and conative-volitive aspects, namely the willingness and determination to practice religious values in daily life.

