https://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/issue/feedJIEL2026-03-09T04:39:44+00:00Siti Hesniyatul Jamila, M.Pd.Imilagesti@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>Jiel</strong> : Islamic Education learning. Journal is a journal published by the Islamic Religious Education Study Program STIT Aqidah Usymuni Sumenep which is a forum for Muslim scholars to work which focuses on literary studies and nuanced research on Islamic religious education journal in collaboration with the Indonesian Islamic religious education journal association.</p>https://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/437Studi Peran dan Implikasi Pembelajaran Deep Learning di Indonesia2026-01-05T11:53:35+00:00Siti Sarahmtshidayatulaliyah1995@gmail.com<p>Deep learning yaitu proses pembelajaran yang dilakukan secara mendalam dengan mengaitkan pengalaman di sekitar dan melibatkan kognitif serta emosional peserta didik. Deep learning mempunyai tiga pendekatan pembelajaran, yaitu meaningful learning (pembelajaran bermakna), mindful learning (pembelajaran yang dipenuhi kesadaran), dan joyful learning (pembelajaran menyenangkan). Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kesadaran bagi para guru dan peserta didik untuk bekerja sama dalam menerapkan peran deep learning di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) yang menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis data dan sumber yang diperoleh dari sumber data sekunder dan sedangkan Teknik pengumpulannya melalui dokumentasi. Hasil dari penelitiannya memaparkan bahwa peran deep learning sangat penting dalam memenuhi tuntutan keterampilan, seperti pada abad ke-21 untuk mewujudkan Indonesia emas 2045. Tapi untuk mewujudkan hal tersebut, guru harus mampu untuk selalu beradaptasi dengan perubahan zaman dan mempunyai kesiapan untuk membimbing peserta didik dalam proses pembelajaran yang mendalam.</p> <p> </p> <p> </p> <p><strong>Abstrack</strong></p> <p>Deep learning is a learning process that is carried out in depth by linking experiences around and innolving the cognitive and emotional states of learners. Deep learning has three learning approaches, namely meaningful learning, mindful learning, and joyful learning. This research aims to raise awareness for teachers and students to work together in implementing the role of deep learning in Indonesia. This research uses a library research method with a qualitative approach. The data types and sources are obtained from secondary data sources, while the collection technique is through documentation. The results of his research show that the role of deep learning is very important meeting the demands of skills such as in the 21<sup>st</sup> century to realize the golden Indonesia 2045. But to realize this, teachers must be able to always adapt to changing times and have the readiness to guide students in the in-depth learning process.</p> <p><em> </em></p> <p> </p> <p> </p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIELhttps://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/350Strategi Pendidikan Karakter di Era Digital 2025-09-16T02:19:35+00:00Sri Wahyuniagsw1972@gmail.com<p>Artikel ini membahas strategi pendidikan karakter di era digital dengan fokus pada penanaman nilai moral kepada Generasi Z yang hidup dalam lingkungan serba teknologi. Kemajuan teknologi dan dominasi media sosial menghadirkan peluang sekaligus tantangan dalam pembentukan karakter. Kajian ini menyoroti pentingnya integrasi kurikulum berbasis digital, keteladanan pendidik, literasi digital guru, serta sinergi keluarga dan masyarakat sebagai pilar utama. Pemanfaatan platform pembelajaran daring, media sosial, dan proyek kolaboratif menjadi sarana menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan etika digital. Di sisi lain, tantangan seperti penyalahgunaan teknologi dan paparan konten negatif diatasi melalui literasi digital yang berkelanjutan, pendampingan orang tua, dan kerja sama lintas pihak. Hasil pembahasan menegaskan bahwa pendidikan karakter berbasis digital tidak hanya membekali peserta didik dengan keterampilan teknologi, tetapi juga membentuk generasi yang berintegritas dan berdaya saing global.</p> <p> </p> <p> </p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This article explores character education strategies in the digital era, focusing on instilling moral values in Generation Z, who live in a highly technological environment. The rapid growth of technology and the dominance of social media present both opportunities and challenges in character formation. The study highlights the importance of integrating a digital-based curriculum, teacher role modeling, digital literacy among educators, and the synergy of families and communities as key pillars. The use of online learning platforms, social media, and collaborative projects serves as a medium to cultivate values such as honesty, responsibility, empathy, and digital ethics. Conversely, challenges like technology misuse and exposure to harmful content are addressed through continuous digital literacy education, parental guidance, and cross-sector collaboration. The findings emphasize that digital-based character education not only equips students with technological skills but also fosters a generation with strong integrity and global competitiveness.</p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIELhttps://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/460Strategi Pendidikan Dalam Membentuk Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas 20452026-01-19T07:56:30+00:00Zainal Abidinfakhrur.rozhiy@gmail.comFakhrurrazi Fakhrurrazifakhrur.rozhiy@gmail.com<p>Visi Indonesia Emas 2045 bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju, berdaulat, dan berkelanjutan. Pencapaian visi ini memerlukan pengembangan sumber daya manusia yang kompetitif dan berkualitas. Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang dapat mendorong bangsa menuju masa depan tersebut. Namun, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti ketimpangan akses pendidikan, kualitas guru yang belum merata, dan kurangnya inovasi dalam sistem pembelajaran. Bertujuan menelaah peran pendidikan dalam mempersiapkan SDM yang kompetitif menuju Generasi Emas 2045. Dengan menggunakan metode studi literatur, penelitian ini mengidentifikasi faktor penyebab penurunan kualitas pendidikan dan strategi untuk menciptakan generasi unggul dan kompetitif. Membahas pentingnya peningkatan kualitas guru, pengembangan kurikulum yang dinamis, dan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Penelitian mengeksplorasi praktik pendidikan di negara maju, seperti Finlandia, sebagai acuan perbaikan sistem pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, Indonesia dapat membentuk generasi yang siap mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.</p> <p> </p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>The vision of Golden Indonesia 2045 aims to make Indonesia an advanced, sovereign, and sustainable nation. Achieving this vision requires the development of competitive and high-quality human resources. Education plays a crucial role in shaping a generation that can propel the nation toward that future. However, Indonesia still faces various challenges, such as unequal access to education, uneven teacher quality, and a lack of innovation in the learning system. This study aims to examine the role of education in preparing competitive human resources for the Golden Generation 2045. Using a literature review method, this study identifies factors contributing to the decline in education quality in Indonesia and discusses strategies for creating a superior and competitive generation. This study discusses the importance of improving teacher quality, developing a dynamic curriculum, and utilizing technology in the learning process. This study explores educational practices in developed countries, such as Finland, as a reference for improving the education system in Indonesia. The results show that by implementing these strategies, Indonesia can shape a generation ready to realize the vision of Golden Indonesia 2045.</p> <p> </p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIELhttps://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/423Pembentukan Karakter Siswa Melalui Pelajaran Deep Learning2026-01-14T15:09:16+00:00Millatul Maghfirohmillamghfrh@gmail.com<p>Pendidikan di abad ke-21 menghadapi tantangan besar terkait dengan menurunnya moralitas dan integritas di tengah kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pendekatan <em>Deep Learning</em> dalam konteks Pendidikan dapat menjadi strategi yang efektif dalam membentuk karakter siswa. Metodologi yang digunakan adalah studi literatur dengan cara mengumpulkan dan menganalisis data dari beragam sumber bacaan primer dan sekunder yang relavan.Temuan studi menunjukkan bahwa <em>Deep Learning</em> yang memadukan aspek pembelajaran yang sadar, bermakna, dan menyenangkan dapat mengubah cara belajar dari sekadar hafalan menuju pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai. Melalui kerangka 6C (Karakter, Kewarganegaraan, Kolaborasi, Komunikasi, Kreativitas, dan Pemikiran Kritis), siswa secara alami mengembangkan sifat tanggung jawab, kemandirian, kemampuan berpikir, kritis, serta empati sosial sepanjang proses pendidikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa <em>Deep Leaarning </em>tidak hanya meningkatkan kemampuan kognitif, tetapi juga berfungsi sebagai alat yang kuat dalam membangun kebiasaan moral. Model ini menawarkan panduan praktis bagi guru untuk secara holistik dan berkelanjutan menyatukan Pendidikan karakter dalam kurikulum.</p> <p> </p> <p> </p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p><strong> </strong></p> <p>Education in the 21st century faces significant challenges regarding the decline of morality and integrity amidst rapid advancements in information technology. This study aims to analyze how the Deep Learning approach in an educational context can serve as an effective strategy for character building. The methodology employed is a literature study, collecting and analyzing data from various relevant primary and secondary sources. The findings indicate that Deep Learning which integrates conscious, meaningful, and joyful learning shifts the learning paradigm from mere rote memorization toward a deeper understanding of values. Through the 6C framework (Character, Citizenship, Collaboration, Communication, Creativity, and Critical Thinking), students naturally develop responsibility, independence, critical thinking skills, and social empathy throughout the educational process. This research concludes that Deep Learning not only enhances cognitive abilities but also serves as a powerful tool for building moral habits. This model offers practical guidance for teachers to holistically and sustainably integrate character education into the curriculum.</p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIELhttps://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/500Dinamika Resiliensi dan Transformasi Pesantren Al-Fattah di Era Globalisasi2026-02-09T03:24:33+00:00Babun Suhartofarikhanida93@gmail.comAnnisa Nidaur Rohmahfarikhanida93@gmail.com<p>Globalisasi telah menimbulkan disrupsi besar dalam lanskap pendidikan Islam, menuntut lembaga-lembaga tradisional seperti pesantren untuk beradaptasi atau menghadapi risiko marginalisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika resiliensi dan bentuk transformasi yang dilakukan oleh Pesantren Al-Fattah dalam merespons tantangan era globalisasi. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dan analisis dokumen kelembagaan. Analisis data model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana meliputi kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil penelitian yaitu Pesantren Al-Fattah membangun resiliensi melalui tiga mekanisme transformasi utama: 1) Re-kontekstualisasi kurikulum yang mengintegrasikan tradisi kitab kuning dengan sains kontemporer dan literasi digital; 2) Transformasi manajemen birokratis menuju manajemen berbasis teknologi informasi (smart pesantren) untuk meningkatkan akuntabilitas publik; dan 3) Ekspansi kultural melalui penguatan bahasa asing dan kerjasama internasional. Penelitian menyimpulkan Pesantren Al-Fattah tidak mengalami sekularisasi akibat globalisasi, melainkan transformasi kritis yang memungkinkan mempertahankan otoritas keislaman sambil berpartisipasi aktif dalam masyarakat global.</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>Globalization has caused major disruption in the landscape of Islamic education, requiring traditional institutions such as Islamic boarding schools to adapt or face the risk of marginalization. This study aims to analyze the dynamics of resilience and the forms of transformation undertaken by Al-Fattah Islamic Boarding School in responding to the challenges of globalization. This study uses a qualitative approach with a case study design. Data collection was conducted through three months of participatory observation, in-depth interviews with pesantren leaders (Kiai), foundation administrators, teachers, and students, as well as analysis of institutional documents. Data analysis used the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana, which includes data condensation, data presentation, and conclusion drawing. The results show that Al-Fattah Islamic Boarding School builds resilience through three main transformation mechanisms: 1) Recontextualization of the curriculum, which integrates traditional Islamic texts with contemporary science and digital literacy; 2) Transformation of bureaucratic management towards information technology-based management (smart pesantren) to improve public accountability; and 3) Cultural expansion through the strengthening of foreign languages (Arabic and English) and international cooperation. This study concludes that Al-Fattah Islamic Boarding School has not experienced secularization due to globalization, but rather a critical transformation that has enabled it to maintain Islamic authority while actively participating in.</p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIELhttps://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/458Pendidikan Agama Islam Sebagai Media Pencegahan Radikalisme di Kalangan Pelajar SMA/SMK 2026-01-19T07:52:52+00:00Khoirotun Nisafakhrur.rozhiy@gmail.comFakhrurrazi Fakhrurrazifakhrur.rozhiy@gmail.com<p>Radikalisme di kalangan pelajar SMA/SMK menjadi ancaman serius bagi stabilitas sosial dan keberlangsungan kehidupan. Pendidikan Agama Islam memiliki peran strategis dalam membentuk karakter siswa agar memiliki pemahaman yang seimbang tentang ajaran Islam serta terhindar dari pengaruh ideologi ekstrem. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas PAI sebagai media pencegahan radikalisme di kalangan pelajar serta mengidentifikasi strategi yang dapat diterapkan pendidik dalam mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama (wasathiyyah) dalam pembelajaran. Penelitian menggunakan metode kepustakaan (Library Research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAI yang mengedepankan nilai toleransi, cinta damai, dan penghormatan terhadap keberagaman berkontribusi dalam membangun sikap inklusif serta daya kritis siswa terhadap propaganda radikal. Selain itu, peran guru dalam menyajikan materi secara kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan moderasi beragama. Dengan demikian, diperlukan penguatan kurikulum dan metode pengajaran PAI yang lebih interaktif serta berbasis pada realitas sosial agar pelajar dapat memahami Islam secara komprehensif dan terhindar dari pemikiran radikal. Implikasi dari penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan pendidikan dalam upaya pencegahan radikalisme di lingkungan sekolah.</p> <h2>Abstract</h2> <p>Radicalism among high school and vocational school students poses a serious threat to social stability and national sustainability. Islamic Religious Education (PAI) plays a strategic role in shaping students' character, ensuring they develop a balanced understanding of Islamic teachings and remain resistant to extremist ideologies. This study aims to analyze the effectiveness of PAI as a medium for preventing radicalism among students and to identify strategies that educators can implement to integrate the values of religious moderation (<em>wasathiyyah</em>) into the learning process. This research employs a library research method. The findings indicate that PAI, which emphasizes values such as tolerance, peace, and respect for diversity, contributes to fostering inclusive attitudes and students’ critical thinking against radical propaganda. Furthermore, the role of teachers in delivering contextualized and relevant materials that align with students’ daily lives is a crucial factor in the success of religious moderation education. Therefore, strengthening the curriculum and adopting more interactive PAI teaching methods based on social realities are essential to ensure that students gain a comprehensive understanding of Islam and remain protected from radical ideologies. The implications of this study can serve as a foundation for developing educational policies aimed at preventing radicalism in school environments.</p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIELhttps://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/471Etika Akademik dalam Islam 2026-01-19T14:26:48+00:00Uni Firdausiyahunifirdausiyah054@gmail.com<p>Artikel ini membahas etika akademik dalam perspektif Islam dengan menekankan penerapan nilai-nilai Al-Qur’an dalam dunia pendidikan. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji konsep etika akademik Islam serta mengidentifikasi nilai-nilai Al-Qur’an yang relevan dalam membentuk sikap akademik yang jujur, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kebenaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), yang bersumber dari buku-buku pendidikan Islam, jurnal ilmiah, dan artikel terkait. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an seperti kejujuran (ṣidq), amanah, dan keadilan (‘adl) merupakan landasan utama dalam etika akademik Islam. Nilai-nilai tersebut berperan penting dalam menjaga integritas ilmiah dan membentuk karakter akademik peserta didik serta pendidik. Penerapan etika akademik berbasis nilai Al-Qur’an menuntut keterlibatan seluruh komponen pendidikan dan menjadi kebutuhan moral dalam menghadapi tantangan akademik di era modern.</p> <p> </p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This article examines academic ethics from an Islamic perspective by emphasizing the application of Qur’anic values in education. The purpose of this study is to explore the concept of Islamic academic ethics and to identify relevant Qur’anic values that shape honest, responsible, and truth-oriented academic behavior. This research employs a qualitative approach through library research, drawing on Islamic education books, scholarly journals, and related academic articles. The findings indicate that Qur’anic values such as honesty (ṣidq), trustworthiness (amanah), and justice (‘adl) serve as fundamental principles of Islamic academic ethics. These values play a crucial role in maintaining academic integrity and developing the moral and intellectual character of both educators and students. The implementation of Qur’anic-based academic ethics requires the active involvement of all educational stakeholders and represents a moral necessity in addressing contemporary academic challenges.</p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIELhttps://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/459Pengembangan Pendidikan Agama Islam Sebagai Budaya Sekolah 2026-01-19T07:54:49+00:00Shafira Rida Tsabithah fakhrur.rozhiy@gmail.comFakhrurrazi Fakhrurrazifakhrur.rozhiy@gmail.com<p>Tulisan ini mengemukakan pentingnya pengembangan Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi budaya sekolah. Strategi mewujudkan hal tersebut dapat ditempuh melalui beberapa cara, yakni: (1) Power strategi, (2) persuasive strategy, dan (3) normative re-educative. Pembiasaan menjadi hal penting untuk menunjang upaya pengembangan PAI menjadi budaya agama di sekolah, karena pembiasaan merupakan hasil dari proses latihan terus menerus sehingga menjadi budaya agama di sekolah tersebut yang akan berakibat positif terhadap terwujudnya tujuan PAI yakni mewujudkan manusia yang taat beragama dan berakhlak mulia, yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komu- nitas sekolah. Implementasi budaya agama di sekolah sekaligus sebagai solusi dari problematika PAI terkait minimnya jam pelajaran dan praktik pembelajarannya yang hanya memperhatikan aspek kognitif semata dan mengabaikan pembinaan aspek afektif dan konatifvolitif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.</p> <p> </p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This paper discusses the importance of developing Islamic Religious Education (PAI) into a school culture. Strategies for achieving this can be pursued through several methods, namely: (1) power strategies, (2) persuasive strategies, and (3) normative re-education. Habitualization is crucial to support efforts to develop PAI into a religious culture in schools. Habitualization is the result of a continuous training process that becomes a religious culture in the school, which will positively impact the realization of PAI's goals: to create religiously devout and noble individuals, namely individuals who are knowledgeable, diligent in worship, intelligent, productive, honest, just, ethical, disciplined, tolerant (tasamuh), maintain personal and social harmony, and develop a religious culture within the school community. Implementing a religious culture in schools also serves as a solution to PAI's problems related to the limited number of teaching hours and learning practices that focus solely on cognitive aspects while neglecting the development of affective and conative-volitive aspects, namely the willingness and determination to practice religious values in daily life.</p> <p> </p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIELhttps://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/445Pentingnya Pendidikan Islam dalam Membentuk Karakter Anak dan Fondasi Tauhid Pada Anak2026-01-13T15:32:30+00:00Najwa Nusaibananarayy285@gmail.com<p>Pentingnya Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter dan Fondasi Tauhid pada Anak merupakan sarana krusial dalam menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan untuk membentuk kepribadian individu. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Pendidikan Agama Islam sebagai fondasi utama dalam pembentukan karakter anak dan bagaimana penanaman nilai tauhid berfungsi sebagai pengendali internal dalam perilaku sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif yang didukung oleh data survei melalui kuesioner kepada orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama bukan sekadar transfer pengetahuan teoretis, melainkan proses pembiasaan akhlak dan penguatan spiritual yang melibatkan sinergi antara lingkungan keluarga dan sekolah. Penanaman tauhid terbukti memberikan dampak psikologis positif berupa peningkatan kontrol diri (self-control), integritas, dan resiliensi emosional pada anak. Kesadaran bahwa Allah Maha Melihat menciptakan mekanisme pengawasan internal yang mencegah perilaku menyimpang, seperti penggunaan kata-kata kasar dan kenakalan remaja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan pendidikan agama sejak dini secara konsisten merupakan solusi fundamental dalam mencetak generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.</p> <p> </p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>The Importance of Islamic Religious Education in Shaping Character and the Foundation of Tawhid in Children is a crucial means of internalizing life values to shape individual personalities. This study aims to analyze the role of Islamic Religious Education as the main foundation in shaping children's character and how the instillation of the value of Tawhid functions as an internal control in daily behavior. The research method used is a descriptive qualitative approach supported by survey data through questionnaires to parents. The results show that religious education is not merely the transfer of theoretical knowledge, but rather a process of moral habituation and spiritual strengthening that involves synergy between the family and school environments. The instillation of Tawhid has been proven to have a positive psychological impact in the form of increased self-control, integrity, and emotional resilience in children. The awareness that Allah is All-Seeing creates an internal monitoring mechanism that prevents deviant behavior, such as the use of harsh words and juvenile delinquency. This study concludes that consistently strengthening religious education from an early age is a fundamental solution in producing a generation that is faithful, knowledgeable, and has noble character.</p>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIELhttps://jurnal.stitau.ac.id/index.php/jiel/article/view/461Peran Penting Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak dalam Perspektif Pendidikan Islam 2026-01-19T07:57:47+00:00Robiatul Adawiyah fakhrur.rozhiy@gmail.comFakhrurrazi Fakhrurrazifakhrur.rozhiy@gmail.com<p>Orang tua sangat berperan dalam memberikan pendidikan kepada anaknya. Orang tua harus memberikan perhatian dalam pendidikan terutama pendidikan agama kepada anaknya sesuai kemampuan orang tua, meskipun sibuk dengan aktivitas yang lain. Orang tua yang shaleh pasti tahu tanggung jawabnya sangat menentukan terwujudnya keluarga yang sakinah, sehingga ia bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi peranannya, maka orang tua itu akan memimpin, mendidik dan memberikan teladan bagi keluarganya dalam segala hal. Upaya yang harus dilakukan orang tua dalam pelaksanaaan pendidikan pada anak dengan memulai mengajarkan pendidikan agama dan membimbing pelaksanaan perintah agama, mengawasi tingkah laku anak dan menegur mereka apabila melakukan hal yang tidak baik. Dari segi materi orang tua memberikan segala keperluan anaknya seperti menyekolahkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak. Orang tua juga harus memberikan pembinaan keimanan, memberikan keteladanan, mampu mengembangkan pertumbuhan kepribadian serta rasa tanggung jawab. Secara sadar orang tua mengemban kewajiban untuk memelihara dan membina anaknya agar menjadi keluarga anak yang berguna.</p> <p> </p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p> </p> <p>Parents play a crucial role in educating their children. They must devote their children's education, especially religious education, to the best of their ability, even if they are busy with other activities. Pious parents understand that their responsibilities are crucial to the establishment of a harmonious family. Therefore, they are accountable for their role. They will lead, educate, and set an example for their family in all aspects. Parents must make efforts to educate their children by starting with religious instruction and guiding them in carrying out religious commands, monitoring their children's behavior, and reprimanding them for misbehavior. Materially, parents provide all their children's needs, such as sending them to school and meeting their needs. Parents must also provide faith development, set an example, and foster personality development and a sense of responsibility. Parents consciously assume the obligation to nurture and educate their children so they become useful members of their family.</p> <p> </p> <p><strong>Keywords:</strong> Role of Parents, Children's Education.</p> <p> </p> <p> </p> <h2>Pendahuluan</h2>2026-03-09T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 JIEL