Mengurai Benang Kusut Kehidupan Perempuan
Studi atas Kehidupan Perempuan Madura Merumuskan Langkah Pemberdayaan Perempuan
DOI:
https://doi.org/10.37459/tafhim.v8i1.2904Abstract
Perempuan adalah kelompok manusia yang senantiasa tertindas disepanjang sejarahnya.[1] Mereka selalu menjadi korban, sasaran keegoisan laki-laki. Tidak dihormati, bahkan seringkali dilecehkan, dan selamanya dijadikan sebagai golongan kedua, dipinggirkan, dimarjinalkan, dan sangat sulit untuk hidup sejahtera.[2] Sederhananya, bila dihitung, mana lebih banyak antara laki dan perempuan yang menjadi tokoh pendidikan, politik, ekonomi, pejabat, penulis, dan juga sastrawan, pastinya dari beberapa tokoh terpandang tersebut, laki-laki merupakan kalangan yang dominan, sementara perempuan dapat dipastikan hanya ada dalam lingkungan kehidupan keluarga. Padahal, jumlah perempuan lebih banyak dengan laki-laki, lalu kenapa keberadaan mereka tidak “nampak†kepermukaan? Mengapa mereka lebih banyak yang harus “puas†berperan sebagai ibu rumah tangga? Benarkah mereka tidak memiliki otak secerdas laki-laki? Benarkah mereka hanya ditakdirkan sebagai golongan kedua dan tidak pantas menyamai status kaum laki-laki? Dan sederet pertanyaan lain yang menjadi bahan renungan penulis sejak dulu.
[1] Telaah lebih jauh pada Alimin Mesra, M.Ag., Peran Perempuan dalam Keluarga, dalam Zubaer Ahmad, M.Ag.,(ed), Membangun Kultur Ramah Perempuan, (Jakarta: Restu Ilahi, 2002), hal. 197
[2] Ibid., hal. 207.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Artikel yang dimuat dalam jurnal ini boleh disebarluaskan, diterbitkan kembali, dengan syarat mencantumkan bahwa artikel tesebut telah dimuat di jurnal Tafhim al-'Ilmi dengan mencantumkan volume, nomor, dan halaman artikel terkait.